Datang dari mimpi semalam
Bulan bundar bermandikan sejuta cahaya
Di langit yang merah ranum seperti anggur
Wajahmu membuai mimpiku
Sang Pujaan tak juga datang
Angin berhembus bercabang
Rinduku berbuah lara
Lara...
Salam cinta menuju sore
Menuju senja, duhai Pemilik Hati
Tuan, sadarkah kamu?
Aku menunggumu dalam diam
Menantimu dalam lamunan
Dan memelukmu dalam angan-angan
Duhai, Tuan
Pertemuan kita ini tak pernah kita rencanakan
Percakapan yang tak pernah terfikirkan
Dan bahkan rindu yang tak pernah kita dambakan sebelumnya
Kenapa Zat Pemilik Segala Rasa ini begitu memberkahi kejutan yang bahkan tak pernah aku idamkan?
Lalu sempat aku berfikir
Apakah aku harus meminta pada Zat Pemilik Segala Rasa dan Pemilik Segala Perasaan
Agar sudikah kiranya Dia 'tuk cabut satu nikmat-Nya ini?
Bahkan seindah karunia cinta pun
Aku tak dapat tenang menikmatinya
Aku pernah mengalaminya
Berkali-kali selama setengah umurku ini
Ya, selama ini aku hanya merasa tersakiti dan terbebani
Tapi kenapa kali ini
Aku begitu yakin akan pengharapan sebuah ikatan suci padamu, Tuan?
Lalu, mengapa aku begitu gundah ketika kau tak berkabar?
Lantas, mengapa aku begitu rindu ketika kau tak ada di sampingku?
Aku di sini menunggumu
Aku kini bagaikan sebuah kayu yang dibakar
Mengarang, mengeras
Lalu tak lantas menjadi abu
Begitulah kira-kira perasaanku padamu, Tuan
Walaupun aku benar-benar jatuh ke dalam cintamu
Aku tak lantas gugur
Aku hanya duduk sejenak
Menengadahkan tanganku menuju kiblat
Meminta agar hentikan semua ragu yang muncul
Ketika aku benar-benar terjatuh
Perkenalkan, Tuan
Aku pemilik senja
Aku rela berdiri berhari-hari
Hanya 'tuk dapati senja seindah ini
Seindah senja yg kucari berjuta-juta kali
Hanya bermaksud 'tuk membuat iri bintang-bintang di malam hari
Bahwa aku ini sedang mengungkapkan isi hati kepada pujaan diri
Tuan, Senja kini sedang berdiri di bawah cahaya lampion kuning di pekarangan hutan pinus
Senja menunggu Tuan datang ke sini membawa pelukan arti dan janji kebersamaan
Dan hutang bukti akan kesetiaan
Jika Tuan bersedia
Tuan cukup datang berikan pelukan
Senja tak butuh ucapan, Tuan
Senja menunggu Tuan di sini
Di sore hari menuju senja
Listen to Senja Menunggu Tuan by dokterfina #np on #SoundCloud
https://soundcloud.com/dokterfina/senja-menunggu-tuan
Nifiku-Moriku, Tuntipu
Minggu, 13 Januari 2019
Minggu, 06 Januari 2019
Kebaikan yang Hati-hati
Kebaikan itu lahir dari hati. Bergetar dari hati, yang kemudian menggetarkan hati-hati yang lain. Hati-hati yang tulus memberi, akan mudah diterima oleh hati-hati yang lapang. Hanya saja, kebaikan yang lahir hari ini semakin sulit dikenal. Entah apa yang terjadi pada hati manusia. Apakah dunia beserta segala kepentingannya telah membuat orang lalai pada hati mereka sendiri? Tidak mengenali perasaannya. Sibuk memanipulasi perasaan untuk kepentingannya sendiri.
Semoga kebaikan-kebaikan itu kembali tumbuh bagai rumput. Tidak mati begitu saja karena terinjak, terpotong, bahkan karena musim kering. Kalau suatu hari aku harus menentukan untuk hidup bersama siapa, aku hendak memilih dengan hati yang baik. Siapapun orangnya, siapapun itu, yang memiliki hati yang baik.
Listen to Kebaikan Yang Hati - Hati by suaracerita #np on #SoundCloud
https://soundcloud.com/suaracerita/kebaikan-yang-hati-hati
Jumat, 04 Januari 2019
Karumbu
Memimpikan pagi di tanah kelahiran
Membayangkan semburat mentari di balik kekokohan
Melamunkan lahan hijau berhamparan
Mengkhayalkan tetes embun yang menyegarkan
Ah, betapa kurindukan
Jiwa yang saling menyapa di pagi yang tenang
Tawa yang riang memberi harapan
Angin berhembus membawa kehangatan
Langit yang menggantungkan impian
Gunung mengeliling menyajikan ketenangan
Hingga laut yang setia menentramkan
Pagi ini kembali ku hanyut
Pada kenangan bersama dia di masa lalu
Pada potongan kisahnya yang terlewatkan
Pada hayalan tentang dia di masa depan
Pada kerinduan ingin pulang
Gambar diambil di Desa Karumbu, Langgudu, pada Juni 2016
Kamis, 03 Januari 2019
Cinta Utama
Berapa banyak cinta manusia di dunia?
Cinta adalah emosi yang muncul akibat ketertarikan yang sangat kuat pada sesuatu. Pelakunya adalah makhluk yang punya perasaan, manusia. Perasaanlah yang membuatnya merasa iba, sayang, ingin melindungi, hingga akhirnya menjadi cinta. Objeknya bisa bermacam, hidup bahkan mati. Cinta pada orangtua, adik, kakak, sahabat, tetangga atau semua manusia. Cinta pada boneka, musik, gambar, mainan, mungkin bahkan pada dunia secara keseluruhan. Dan yang satu ini sering dispesialkan, cinta pada dia. Dia, yang dengan menyebut namanya saja membuat dada bergetar. Setidaknya, manusia sering mengaku begitu.
Berjuta-juta manusia di dunia, masing-masing memiliki cinta, minimal mencintai dirinya sendiri. Ada yang cintanya hanya pada satu objek, ada pula yang dapat membaginya pada berbagai objek sekaligus. Kebanyakan manusia membagi cintanya sesuai porsinya masing-masing. Tapi mungkin ada yang cintanya dibagi sama rata pada beberapa objek, walaupun secara logika tidak akan bisa, manusia cenderung susah untuk berbuat adil secara utuh. Dan manusia punya batas, tak ada dua hal yang bisa diprioritaskan dalam satu waktu.
Jadi, berapa banyak cinta manusia di dunia? Mungkin lebih banyak dari jumlah helai rambut manusia itu sendiri. Atau lebih banyak dari jumlah bintang gemintang di angkasa. Namun selama yang aku pelajari, ada satu cinta yang paling sejati. Jika cinta itu terus dijaga, akan bersemi di dunia dan tumbuh hingga ke puncak langit. Cinta yang jika diutamakan, maka cinta yang lain akan tetap terawat. Cinta yang tak perlu khawatir tak dibalas. Cinta makhluk pada Sang Khalik, cinta manusia pada Allah.
Kamis, 23 Juni 2016
Nama Saya Mirra
Tak ada kata telat untuk memperkenalkan diri.
Assalamu'alaykum...
Halo!
Tulisan ini dibuat untuk memperkenalkan diri saya. Nama lengkap saya adalah
Miftahurrahmah Ayuni, berasal dari kata miftah, rahmah, dan ayuni. Miftah
berarti kunci, dan rahmah adalah rahmat. Jadi miftahurrahmah berarti kunci
rahmat. Kata ayuni ditambahkan untuk menunjukkan bahwa saya adalah perempuan
Indonesia. Mungkin orang-orang akan berfikir nama panggilan saya akan berkisar
antara Miftah, Rahmah, atau Ayuni. Tetapi tidak seperti itu. Saya akrab disapa
Mirra atau Mira, sejak kecil. MIRRA merupakan singkatan dari MIftahuRRAhmah.
Ide nama panggilan itu datang dari bibi saya, dan berlanjut hingga sekarang.
Saya lahir
dan besar di sebuah desa yang bernama Karumbu, terletak di Kecamatan Langgudu,
Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Tanggal lahir saya 4 Januari, dan sekarang
saya sudah berusia 21 tahun. Saya sedang menjalani masa kuliah tahun ketiga,
mengambil program studi Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Jakarta.
Saya ulangi lagi, Jakarta. Ya. Tempat yang menjadi impian saya sejak kecil
untuk menuntut ilmu. Jauh dari kampung halaman, bukan masalah. Karena banyak pelajaran dari perjalanan. Alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan.
Seperti
halnya anak rantauan, saya juga tinggal indekos. Mendapat kamar kostan yang cukup bagus di daerah Haji
Ten, Rawasari-Rawamangun, sekitar 1km dari kampus. Saya sekamar dengan seorang
teman yang juga sekelas dengan saya di kampus. Saya sudah terbiasa jauh dari
orangtua sejak masuk Sekolah Dasar. Sehingga bukan hal yang sulit bagi saya
untuk ngekost. Mungkin melihat ini,
orang-orang akan berpikir saya anak yang mandiri. Namun, tidak begitu. Saya
hanya terbiasa hidup sendiri, tanpa keteraturan. Jadi kelemahan utama saya
adalah tidak disiplin. Saya kurang mampu berdamai dengan waktu.
Saya
adalah salah satu dari sekian banyak penyuka seni. Musik, tari, lukisan, adalah
hal-hal yang membuat saya tertarik. Saya memiliki salah satu hobi yang bisa
dibilang “mengganggu” orang di sekitar saya, yaitu menyanyi. Setiap ada lagu
yang terputar, selalu, tanpa sadar, saya ikut menyanyikan. Sampai adik bahkan
teman-teman saya menyebut saya latah dalam nyanyian. Hobi saya yang lain adalah
keterampilan tangan. Saya tidak berani menyebutnya kelebihan, karena takut apa
yang saya hasilkan kurang memuaskan orang lain. Tetapi saya selalu menikmati
membuat sesuatu.
Hal lain
yang saya suka adalah persahabatan. Saya sudah menjadi anak rantauan sejak di
madrasah tsanawiyah. Anak rantauan tidak akan jauh dari kesendirian. Untuk itu
saya selalu mencari kawan. Sekelompok sahabat itulah yang akhirnya menggantikan
peran keluarga di tempat rantauan, setidaknya itu bagi saya. Saya telah bertemu
dengan berbagai macam jenis manusia. Hal ini membuat saya mudah mengerti
keberagaman, berteman dengan siapa saja. Namun jika hubungan semakin dekat,
kadang saya terlalu over protecting terhadap
sahabat-sahabat saya. Kadang sikap itu menyakiti mereka. Saya masih berusaha
memperbaiki diri, hingga saya pantas diterima apa adanya.
Tulisan
ini sepertinya mulai memanjang. Saya cukupkan dulu sampai di sini. Namun, jika
masih penasaran, saya bisa di cari di UNJ, gedung Dewi Sartika, lantai 5 atau
lantai 7, tempat favorit saya untuk sekedar nongkrong.
Atau bisa lewat akun Facebook saya,
Mirra Ayuni. Saya selalu terbuka untuk pertemanan. Terima kasih sudah membaca^^
Wassalamu'alaykum...
Selasa, 21 Juni 2016
Pemuda yang Dirindukan Bangsa
Tiga hari rangkaian Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (PKMU) 1 rampung sudah. Tiga materi, Manajemen Isu dan Opini Publik, Rekayasa Sosial, dan Kontra Intelijen, telah diterima oleh peserta, termasuk saya. Saya akan sedikit membagi kepada pembaca, apa saja yang telah saya dapat dari ketiga materi itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bismillahirrahmanirrahim
Jumat, 17 Juni 2016, hari pertama rangakain PKMU 1. Saya
berhalangan hadir. Namun saya telah membaca rangkuman dari beberapa teman saya
mengenai materi pertama, yaitu Manajemen
Isu dan Opini Publik oleh Bapak M. Tri Andika Kurniawan, Dosen dari Universitas Bakrie.
Opini
tentu saja berbeda dengan fakta. Opini lebih seperti pendapat yang belum bisa diketahui
kebenarannya. Namun Pak Andika menambahkan “Hukum yang paling dipercaya oleh masyarakat adalah
hukum opini.” Opini bisa menjadi hal
yang besar jika telah menjadi opini publik. Publik
berbeda dengan massa. Publik adalah sekelompok masyarakat yang terorganisir dan
tercerdaskan dengan baik. Sedangkan massa adalah kebalikannya. Sehingga opini
publik bisa dianggap kuat dan dapat dijadikan bahan untuk manajemen isu,
walaupun belum pasti opini tersebut adalah benar.
Pak
Andika yang merupakan lulusan S1 Universitas Indonesia jurusan ilmu politik
memaparkan elemen dari opini publik, yaitu: terdapat isu, publik, pembelahan
posisi publik, muncul opini, pelibatan aktor publik. Media bisa dikatakan
sebagai aktor publik. Ciri khasnya adalah menggiring isu dengan menciptakan
suasana hiperrealitas, yaitu keadaan di mana rekayasa dan fakta dipadukan di
dalam opininya. Sehingga ukuran keberhasilan opini publik adalah saat di mana
rekayasa dan fakta sudah tidak dapat dibedakan lagi. Ciri khas selanjutnya yang
juga menjadi kelemahan dari opini publik, yiatu spiral of silent. Spiral of
silent adalah keadaan di mana anggota minoritas dari publik itu mempunyai
pendapat berbeda, namun enggan mengungkapkan dan memilih diam.
Selain itu ada pula, dampak dari opini
publik, yaitu:
1. Inflasi informasi
2. Disinformasi ( tidak mendalam dalam
menggali informasi)
3. Depolitisasi ( isu pinggiran lebih
mendominasi dari isu utama)
4. Banalitas informasi (junk information)
5. Hipermoralitas (hilangnya batas-batas moral)
Jadi,
opini publik bisa menjadi senjata dalam manajemen isu. Namun, mencari opini publik
janganlah asal-asalan dan harus mendalam. Agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Serta opini publik dikemas dengan sebaik-baiknya, guna mengurangi dampak
negatif dari opini tersebut.
Sabtu,
18 Juni, 2016, hari kedua rangkaian PKMU 1. Agenda dilaksanakan di Aula
Daksinapati, Kampus A Universitas Negeri Jakarta. Acara diulur beberapa waktu,
dikarenakan terjadi miskom antara panitia dan pihak gedung. Namun,
Alhamdulillah acara di hari kedua itu tetap terlaksana. Dibuka oleh MC, Galih
Tresna Nugraha Perkasa. Materi pada hari kedua adalah Rekayasa Sosial oleh Bapak Jonru Ginting, seorang Socialpreneur, dan
dimoderatori oleh Mohammad Hafizh.
Berbicara
tentang rekayasa sosial maka kita akan berhadapan dengan suatu tujuan, yaitu
perubahan. Siapa yang bisa melakukan sebuah perubahan? Seorang pemimpin. Dan setiap
manusia adalah pemimpin. Pemimpin tidak melulu berbicara tentang jabatan, tapi
tentang jiwa kepemimpinan tu sendiri. Dan jika membahas tentang perubahan, kita
sebagai mahasiswa yang salah satu fungsinya adalah agent of change, apa yang
harus kita miliki? Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita menjadi
superhero?
Menjadi
agent of change membutuhkan empat senjata akurat yaitu:
1. Power (kekuatan), antara lain berupa apa
yang kita miliki. Contohnya uang, ilmu, pemikiran, bahkan jabatan.
2. Leadership (kepemimpinan). Sebagian
individu sudh ada yang terlahir dengan sikap kepemimpinan di dalam dirinya.
Namun, sikap kepemimpinan dapan dikembangkan dalam diri dengan mengikuti
pelatihan. Dan lebih efektif lagi jika dibarengi dengan pengalaman.
3. Mentality meliputi sikap yang berasal dari
dalam jiwa, seperti kepercayaan diri, pantng menyerah, disiplin, konsisten,
karakter, akhlak, semangat, dan sebagainya.
4. Morality meliputi sikap kita terhadap
orang lain di sekitar kita. Misalnya sikap eduli, cinta, tangung jawab, jujur,
pengabdian dan lain-lain.
Dengan
senjata-senjata di atas, kita siap menjadi agent of change menciptakan rekayasa
sosial yang bertujuan membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Namun bagaimana
jika rekayasa sosial membawa keburukan? Maka lawan dengan memanfaatkan media
yang ada, walaupun dampaknya tidak terlalu besar. Yakinlah, semakin banyak
orang menerima pesan kebaikan kita, maka keadaan akan semakin baik.
Minggu,
19 Juni 2016, hari terakhir dari tiga hari rangaian PKMU 1. Diadakan di Kampus
B Universitas Negeri Jakarta, Gedung MIPA ruang 1.6-1.7. Materi yang
disampaikan pada hari itu adalah Counter
Intelligence (Kontra Intelijen) oleh Bapak Moses Caesar Assa, Staff Ahli Komisi 1
DPR RI, dan dimoderatori oleh Ahmad Roki Robani.
Materi
dibuka dengan menyaksikan cuplikan film Pearl Harbor. Menceritakan tentang
gagalnya Amerika mempertahankan diri dari serangan Jepang, dikarenakan tidak
mengabaikan informasi dari intelijen negaranya. Maksud dari dipertontonkannya
film ini adalah untuk memperlihatkan betapa pentingnya keputusan seorag
intelijen.
Pengertian kontra
intelijen itu sendiri ialah pencegahan agar pihak musuh tidak mendapatkan
informasi yang dapat membahayakan keamanan melalui penerapan siasat yang
menggunakan metode yang bertentangan (kontra) dengan pihak musuh. Misalnya dalam lembaga organisasi mahasiswa. untuk menjaga internal tetap solid dan saling percaya, yaitu dengan menganalisis segala tada-tanda yang terdeteksi yang dapat menganggu penjagaan anggota.
Kegiatan pikiran
intelijen di mulai dari pengumpulan sinyal-sinyal yang akhirnya menjadi
kumpulan data. Kumpulan data akan dijadikan informasi. Kumpulan informasi
menjadi pengetahuan. Kemudian intelijen mulai memikirkan cara mengatasi
masalah. Dalam hal ini, kemungkinan di masa depan bisa kita kumpulkan apabila
kita kembali berkaca ke masa lalu, menemukan permasalahan sejenis yang pernah
terjadi, kemudian mengaitkan dengan masalah di masa sekarang.
Inti
dari kegiatan kontra intelijen adalah untuk mempertahankan negara. Lalu apa
peran mahasiswa dalam pertahanan negara? Sangat banyak. Pemuda yang tidak
memiliki rasa patritosme akan menyebabkan pertahan negara hancur. Buktinya,
sudah berapa daerah Indonesia yang meminta memisahkan diri? Sebagian sudah
berhasil terpisah. Pelopornya adalah para pemuda. Untuk itu diharapkan kepada
mahasiswa, yang merupakan pemuda bangsa, menumbuhkan rasa cinta tanah air dan
siap bela negara. Serta sebarkan kepada pemuda lain di sekitarmu, bahkan kepada
pemuda di seluruh tanah air kita, Indonesia.
Hidup
Mahasiswa!!
Hidup
Rakyat Indonesia!!
Sabtu, 09 Mei 2015
Mendengarkan Suara Mereka
Kamis, 7 Mei 2015 pukul 12.51 WIB
Siang yang terik, saya berangkat dari
kostan ke kampus, bertujuan mencari mangsa yang bisa dijadikan narasumber.
Sebelumnya, di pagi hari ini, saya mendapat pesan dari kakak fasilitator
kelompok saya untuk mengerjakan tugas sebagai peserta Pelatihan Advokasi Mahasiswa, yaitu Public Hearing dari
profesi-profesi yang ada di Universitas Negeri Jakarta. Target yang terpikirkan oleh saya adalah
Petugas Kebersihan wanita yang ada di Gedung Dewi Sartika, gedung biasa saya
kuliah.
Cukup lama saya mencari, Petugas
Kebersihan wanita yang saya jumpai tidak bisa untuk diajak berbincang, karena
sedang melaksanakan tugas. Akhirnya saya mengalah dengan target saya, dan mulai
memilih Petugas Kebersihan pria yang sedang istirahat di bawah tangga darurat lantai
1. Dan saya bertemu dengan Pak Fikri –panggilan akrab Pak Ahmad Fikri.
Pak Fikri mengaku berprofesi sebagai House Keeping di gedung
ini, khususnya di Lantai 2. House Keeping merupakan sebutan lain untuk petugas
kebersihan, untuk itu tugas mereka adalah memastikan gedung Dewi Sartika tetap
bersih. Pak Fikri sudah bekerja selama setahun di UNJ, sehingga beliau merasa
sudah sangat akrab dengan semua pegawai bahkan dengan pihak Manajemen. Terlihat
dari celetuk-celetuk pegawai lain yang juga sedang beristirahat saat itu, candaan
mereka membuat saya juga tidak 'kaku' berbincang dengan beliau dan juga
teman-temannya.
Bekerja selama setahun di UNJ, tentu saja Pak Fikri mempunyai kesan
tersendiri. Menurut beliau, masyarakat UNJ cukup baik, hanya sebagian kecil yang
tidak baik. Walaupun mereka hanya petugas-petugas kebersihan, masih ada
beberapa mahasiswa yang suka menyapa dan mau mengobrol dengan mereka. Namun,
tidak dipungkiri, mereka tetap merasa masih banyak mahasiswa yang tidak
peduli. Bukan hanya tidak peduli dengan keberadaan mereka, tapi juga tidak
peduli dengan kebersihan di UNJ, khususnya di gedung itu. Mahasiswa masih membuang sampah sembarangan. Sering beliau dan juga
teman-temannya mendapati mahasiswa-mahasiswa, yang setelah menggunakan ruangan
untuk diskusi atau rapat, tidak merapikan kembali ruangan yang digunakan atau
setidaknya sekadar membuang sampah di tempatnya, karena dari pihak kampus sendiri sudah menyiapkan tempat sampah di setiap ruangan.
Menjadi House Keeping, membuat Pak
Fikri tidak terlalu ‘berani’ untuk ikut campur dalam masalah kampus. Sehingga
saat saya bertanya terkait isu-isu apa saja yang tejadi di UNJ baru-baru ini,
beliau hanya menjawab bahwa bagi mereka cukup mendengar kabar saja, tidak
lebih. Mereka hanya mengetahui dari yang terlihat saja, seperti adanya aksi
mahasiswa di kampus. Waktu bekerja beliau yang dari jam enam pagi sampai jam
lima sore, ditambah lagi tugas menjaga kebersihan yang harus dilaksanakan,
membuat beliau berfikir untuk fokus pada tugas -itu saja.
Cukup lama saya mengobrol dengan Pak Fikri juga teman-temannya. Pertanyaan
terakhir saya mengenai harapan untuk UNJ, beliau menjawab, “Semoga UNJ selalu
menghasilkan mahasiswa yang berprestasi, baik di dalam maupun di luar”. Beliau
juga berharap agar semua elemen di
kampus A, Universitas Negeri Jakarta, ini peduli dengan kebersihan,
sehingga mau bekerja sama dalam menjaga kebersihan dan keindahan kampus.
Saya, sebagai
mahasiswa yang mendengarkan Pak Fikri dan teman-temannya, berharap bisa menjadi
perantara terwujudnya harapan mereka. Memulai dari diri sendiri. Peduli kepada
mereka, peduli kepada tugas mereka, dan peduli kepada kebersihan Kampus Hijau
kita tercinta. Karena kebersihan kampus buka hanya tugas mereka tapi kita. Ayo
menjaga kebersihan kampus!
Terima
kasih sudah membaca tulisan saya, semoga dapat menginspirasi. Kritik dan saran
akan saya terima dengan senang hati.
~GHAMSAHAMNIDA~
Langganan:
Postingan (Atom)




