Mendengarkan Suara Mereka
Kamis, 7 Mei 2015 pukul 12.51 WIB
Siang yang terik, saya berangkat dari
kostan ke kampus, bertujuan mencari mangsa yang bisa dijadikan narasumber.
Sebelumnya, di pagi hari ini, saya mendapat pesan dari kakak fasilitator
kelompok saya untuk mengerjakan tugas sebagai peserta Pelatihan Advokasi Mahasiswa, yaitu Public Hearing dari
profesi-profesi yang ada di Universitas Negeri Jakarta. Target yang terpikirkan oleh saya adalah
Petugas Kebersihan wanita yang ada di Gedung Dewi Sartika, gedung biasa saya
kuliah.
Cukup lama saya mencari, Petugas
Kebersihan wanita yang saya jumpai tidak bisa untuk diajak berbincang, karena
sedang melaksanakan tugas. Akhirnya saya mengalah dengan target saya, dan mulai
memilih Petugas Kebersihan pria yang sedang istirahat di bawah tangga darurat lantai
1. Dan saya bertemu dengan Pak Fikri –panggilan akrab Pak Ahmad Fikri.
Pak Fikri mengaku berprofesi sebagai House Keeping di gedung
ini, khususnya di Lantai 2. House Keeping merupakan sebutan lain untuk petugas
kebersihan, untuk itu tugas mereka adalah memastikan gedung Dewi Sartika tetap
bersih. Pak Fikri sudah bekerja selama setahun di UNJ, sehingga beliau merasa
sudah sangat akrab dengan semua pegawai bahkan dengan pihak Manajemen. Terlihat
dari celetuk-celetuk pegawai lain yang juga sedang beristirahat saat itu, candaan
mereka membuat saya juga tidak 'kaku' berbincang dengan beliau dan juga
teman-temannya.
Bekerja selama setahun di UNJ, tentu saja Pak Fikri mempunyai kesan
tersendiri. Menurut beliau, masyarakat UNJ cukup baik, hanya sebagian kecil yang
tidak baik. Walaupun mereka hanya petugas-petugas kebersihan, masih ada
beberapa mahasiswa yang suka menyapa dan mau mengobrol dengan mereka. Namun,
tidak dipungkiri, mereka tetap merasa masih banyak mahasiswa yang tidak
peduli. Bukan hanya tidak peduli dengan keberadaan mereka, tapi juga tidak
peduli dengan kebersihan di UNJ, khususnya di gedung itu. Mahasiswa masih membuang sampah sembarangan. Sering beliau dan juga
teman-temannya mendapati mahasiswa-mahasiswa, yang setelah menggunakan ruangan
untuk diskusi atau rapat, tidak merapikan kembali ruangan yang digunakan atau
setidaknya sekadar membuang sampah di tempatnya, karena dari pihak kampus sendiri sudah menyiapkan tempat sampah di setiap ruangan.
Menjadi House Keeping, membuat Pak
Fikri tidak terlalu ‘berani’ untuk ikut campur dalam masalah kampus. Sehingga
saat saya bertanya terkait isu-isu apa saja yang tejadi di UNJ baru-baru ini,
beliau hanya menjawab bahwa bagi mereka cukup mendengar kabar saja, tidak
lebih. Mereka hanya mengetahui dari yang terlihat saja, seperti adanya aksi
mahasiswa di kampus. Waktu bekerja beliau yang dari jam enam pagi sampai jam
lima sore, ditambah lagi tugas menjaga kebersihan yang harus dilaksanakan,
membuat beliau berfikir untuk fokus pada tugas -itu saja.
Cukup lama saya mengobrol dengan Pak Fikri juga teman-temannya. Pertanyaan
terakhir saya mengenai harapan untuk UNJ, beliau menjawab, “Semoga UNJ selalu
menghasilkan mahasiswa yang berprestasi, baik di dalam maupun di luar”. Beliau
juga berharap agar semua elemen di
kampus A, Universitas Negeri Jakarta, ini peduli dengan kebersihan,
sehingga mau bekerja sama dalam menjaga kebersihan dan keindahan kampus.
Saya, sebagai
mahasiswa yang mendengarkan Pak Fikri dan teman-temannya, berharap bisa menjadi
perantara terwujudnya harapan mereka. Memulai dari diri sendiri. Peduli kepada
mereka, peduli kepada tugas mereka, dan peduli kepada kebersihan Kampus Hijau
kita tercinta. Karena kebersihan kampus buka hanya tugas mereka tapi kita. Ayo
menjaga kebersihan kampus!
Terima
kasih sudah membaca tulisan saya, semoga dapat menginspirasi. Kritik dan saran
akan saya terima dengan senang hati.
~GHAMSAHAMNIDA~



Tidak ada komentar:
Posting Komentar