Sabtu, 09 Mei 2015


Mendengarkan Suara Mereka

Kamis, 7 Mei 2015 pukul 12.51 WIB

Siang yang terik, saya berangkat dari kostan ke kampus, bertujuan mencari mangsa yang bisa dijadikan narasumber. Sebelumnya, di pagi hari ini, saya mendapat pesan dari kakak fasilitator kelompok saya untuk mengerjakan tugas sebagai peserta Pelatihan Advokasi Mahasiswa, yaitu Public Hearing dari profesi-profesi yang ada di Universitas Negeri Jakarta. Target yang terpikirkan oleh saya adalah Petugas Kebersihan wanita yang ada di Gedung Dewi Sartika, gedung biasa saya kuliah.
Cukup lama saya mencari, Petugas Kebersihan wanita yang saya jumpai tidak bisa untuk diajak berbincang, karena sedang melaksanakan tugas. Akhirnya saya mengalah dengan target saya, dan mulai memilih Petugas Kebersihan pria yang sedang istirahat di bawah tangga darurat lantai 1. Dan saya bertemu dengan Pak Fikri –panggilan akrab Pak Ahmad Fikri.
Pak Fikri mengaku berprofesi sebagai House Keeping di gedung ini, khususnya di Lantai 2. House Keeping merupakan sebutan lain untuk petugas kebersihan, untuk itu tugas mereka adalah memastikan gedung Dewi Sartika tetap bersih. Pak Fikri sudah bekerja selama setahun di UNJ, sehingga beliau merasa sudah sangat akrab dengan semua pegawai bahkan dengan pihak Manajemen. Terlihat dari celetuk-celetuk pegawai lain yang juga sedang beristirahat saat itu, candaan mereka membuat saya juga tidak 'kaku' berbincang dengan beliau dan juga teman-temannya.
Bekerja selama setahun di UNJ, tentu saja Pak Fikri mempunyai kesan tersendiri. Menurut beliau, masyarakat UNJ cukup baik, hanya sebagian kecil yang tidak baik. Walaupun mereka hanya petugas-petugas kebersihan, masih ada beberapa mahasiswa yang suka menyapa dan mau mengobrol dengan mereka. Namun, tidak dipungkiri, mereka tetap merasa masih banyak mahasiswa yang tidak peduli. Bukan hanya tidak peduli dengan keberadaan mereka, tapi juga tidak peduli dengan kebersihan di UNJ, khususnya di gedung itu. Mahasiswa masih membuang sampah sembarangan. Sering beliau dan juga teman-temannya mendapati mahasiswa-mahasiswa, yang setelah menggunakan ruangan untuk diskusi atau rapat, tidak merapikan kembali ruangan yang digunakan atau setidaknya sekadar membuang sampah di tempatnya, karena dari pihak kampus sendiri sudah menyiapkan tempat sampah di setiap ruangan.
            Menjadi House Keeping, membuat Pak Fikri tidak terlalu ‘berani’ untuk ikut campur dalam masalah kampus. Sehingga saat saya bertanya terkait isu-isu apa saja yang tejadi di UNJ baru-baru ini, beliau hanya menjawab bahwa bagi mereka cukup mendengar kabar saja, tidak lebih. Mereka hanya mengetahui dari yang terlihat saja, seperti adanya aksi mahasiswa di kampus. Waktu bekerja beliau yang dari jam enam pagi sampai jam lima sore, ditambah lagi tugas menjaga kebersihan yang harus dilaksanakan, membuat beliau berfikir untuk fokus pada tugas -itu saja.
            Cukup lama saya mengobrol dengan Pak Fikri juga teman-temannya. Pertanyaan terakhir saya mengenai harapan untuk UNJ, beliau menjawab, “Semoga UNJ selalu menghasilkan mahasiswa yang berprestasi, baik di dalam maupun di luar”. Beliau juga berharap agar semua elemen di  kampus A, Universitas Negeri Jakarta, ini peduli dengan kebersihan, sehingga mau bekerja sama dalam menjaga kebersihan dan keindahan kampus.
            Saya, sebagai mahasiswa yang mendengarkan Pak Fikri dan teman-temannya, berharap bisa menjadi perantara terwujudnya harapan mereka. Memulai dari diri sendiri. Peduli kepada mereka, peduli kepada tugas mereka, dan peduli kepada kebersihan Kampus Hijau kita tercinta. Karena kebersihan kampus buka hanya tugas mereka tapi kita. Ayo menjaga kebersihan kampus!
            Terima kasih sudah membaca tulisan saya, semoga dapat menginspirasi. Kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati.


~GHAMSAHAMNIDA~