Tiga hari rangkaian Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (PKMU) 1 rampung sudah. Tiga materi, Manajemen Isu dan Opini Publik, Rekayasa Sosial, dan Kontra Intelijen, telah diterima oleh peserta, termasuk saya. Saya akan sedikit membagi kepada pembaca, apa saja yang telah saya dapat dari ketiga materi itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bismillahirrahmanirrahim
Jumat, 17 Juni 2016, hari pertama rangakain PKMU 1. Saya
berhalangan hadir. Namun saya telah membaca rangkuman dari beberapa teman saya
mengenai materi pertama, yaitu Manajemen
Isu dan Opini Publik oleh Bapak M. Tri Andika Kurniawan, Dosen dari Universitas Bakrie.
Opini
tentu saja berbeda dengan fakta. Opini lebih seperti pendapat yang belum bisa diketahui
kebenarannya. Namun Pak Andika menambahkan “Hukum yang paling dipercaya oleh masyarakat adalah
hukum opini.” Opini bisa menjadi hal
yang besar jika telah menjadi opini publik. Publik
berbeda dengan massa. Publik adalah sekelompok masyarakat yang terorganisir dan
tercerdaskan dengan baik. Sedangkan massa adalah kebalikannya. Sehingga opini
publik bisa dianggap kuat dan dapat dijadikan bahan untuk manajemen isu,
walaupun belum pasti opini tersebut adalah benar.
Pak
Andika yang merupakan lulusan S1 Universitas Indonesia jurusan ilmu politik
memaparkan elemen dari opini publik, yaitu: terdapat isu, publik, pembelahan
posisi publik, muncul opini, pelibatan aktor publik. Media bisa dikatakan
sebagai aktor publik. Ciri khasnya adalah menggiring isu dengan menciptakan
suasana hiperrealitas, yaitu keadaan di mana rekayasa dan fakta dipadukan di
dalam opininya. Sehingga ukuran keberhasilan opini publik adalah saat di mana
rekayasa dan fakta sudah tidak dapat dibedakan lagi. Ciri khas selanjutnya yang
juga menjadi kelemahan dari opini publik, yiatu spiral of silent. Spiral of
silent adalah keadaan di mana anggota minoritas dari publik itu mempunyai
pendapat berbeda, namun enggan mengungkapkan dan memilih diam.
Selain itu ada pula, dampak dari opini
publik, yaitu:
1. Inflasi informasi
2. Disinformasi ( tidak mendalam dalam
menggali informasi)
3. Depolitisasi ( isu pinggiran lebih
mendominasi dari isu utama)
4. Banalitas informasi (junk information)
5. Hipermoralitas (hilangnya batas-batas moral)
Jadi,
opini publik bisa menjadi senjata dalam manajemen isu. Namun, mencari opini publik
janganlah asal-asalan dan harus mendalam. Agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Serta opini publik dikemas dengan sebaik-baiknya, guna mengurangi dampak
negatif dari opini tersebut.
Sabtu,
18 Juni, 2016, hari kedua rangkaian PKMU 1. Agenda dilaksanakan di Aula
Daksinapati, Kampus A Universitas Negeri Jakarta. Acara diulur beberapa waktu,
dikarenakan terjadi miskom antara panitia dan pihak gedung. Namun,
Alhamdulillah acara di hari kedua itu tetap terlaksana. Dibuka oleh MC, Galih
Tresna Nugraha Perkasa. Materi pada hari kedua adalah Rekayasa Sosial oleh Bapak Jonru Ginting, seorang Socialpreneur, dan
dimoderatori oleh Mohammad Hafizh.
Berbicara
tentang rekayasa sosial maka kita akan berhadapan dengan suatu tujuan, yaitu
perubahan. Siapa yang bisa melakukan sebuah perubahan? Seorang pemimpin. Dan setiap
manusia adalah pemimpin. Pemimpin tidak melulu berbicara tentang jabatan, tapi
tentang jiwa kepemimpinan tu sendiri. Dan jika membahas tentang perubahan, kita
sebagai mahasiswa yang salah satu fungsinya adalah agent of change, apa yang
harus kita miliki? Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita menjadi
superhero?
Menjadi
agent of change membutuhkan empat senjata akurat yaitu:
1. Power (kekuatan), antara lain berupa apa
yang kita miliki. Contohnya uang, ilmu, pemikiran, bahkan jabatan.
2. Leadership (kepemimpinan). Sebagian
individu sudh ada yang terlahir dengan sikap kepemimpinan di dalam dirinya.
Namun, sikap kepemimpinan dapan dikembangkan dalam diri dengan mengikuti
pelatihan. Dan lebih efektif lagi jika dibarengi dengan pengalaman.
3. Mentality meliputi sikap yang berasal dari
dalam jiwa, seperti kepercayaan diri, pantng menyerah, disiplin, konsisten,
karakter, akhlak, semangat, dan sebagainya.
4. Morality meliputi sikap kita terhadap
orang lain di sekitar kita. Misalnya sikap eduli, cinta, tangung jawab, jujur,
pengabdian dan lain-lain.
Dengan
senjata-senjata di atas, kita siap menjadi agent of change menciptakan rekayasa
sosial yang bertujuan membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Namun bagaimana
jika rekayasa sosial membawa keburukan? Maka lawan dengan memanfaatkan media
yang ada, walaupun dampaknya tidak terlalu besar. Yakinlah, semakin banyak
orang menerima pesan kebaikan kita, maka keadaan akan semakin baik.
Minggu,
19 Juni 2016, hari terakhir dari tiga hari rangaian PKMU 1. Diadakan di Kampus
B Universitas Negeri Jakarta, Gedung MIPA ruang 1.6-1.7. Materi yang
disampaikan pada hari itu adalah Counter
Intelligence (Kontra Intelijen) oleh Bapak Moses Caesar Assa, Staff Ahli Komisi 1
DPR RI, dan dimoderatori oleh Ahmad Roki Robani.
Materi
dibuka dengan menyaksikan cuplikan film Pearl Harbor. Menceritakan tentang
gagalnya Amerika mempertahankan diri dari serangan Jepang, dikarenakan tidak
mengabaikan informasi dari intelijen negaranya. Maksud dari dipertontonkannya
film ini adalah untuk memperlihatkan betapa pentingnya keputusan seorag
intelijen.
Pengertian kontra
intelijen itu sendiri ialah pencegahan agar pihak musuh tidak mendapatkan
informasi yang dapat membahayakan keamanan melalui penerapan siasat yang
menggunakan metode yang bertentangan (kontra) dengan pihak musuh. Misalnya dalam lembaga organisasi mahasiswa. untuk menjaga internal tetap solid dan saling percaya, yaitu dengan menganalisis segala tada-tanda yang terdeteksi yang dapat menganggu penjagaan anggota.
Kegiatan pikiran
intelijen di mulai dari pengumpulan sinyal-sinyal yang akhirnya menjadi
kumpulan data. Kumpulan data akan dijadikan informasi. Kumpulan informasi
menjadi pengetahuan. Kemudian intelijen mulai memikirkan cara mengatasi
masalah. Dalam hal ini, kemungkinan di masa depan bisa kita kumpulkan apabila
kita kembali berkaca ke masa lalu, menemukan permasalahan sejenis yang pernah
terjadi, kemudian mengaitkan dengan masalah di masa sekarang.
Inti
dari kegiatan kontra intelijen adalah untuk mempertahankan negara. Lalu apa
peran mahasiswa dalam pertahanan negara? Sangat banyak. Pemuda yang tidak
memiliki rasa patritosme akan menyebabkan pertahan negara hancur. Buktinya,
sudah berapa daerah Indonesia yang meminta memisahkan diri? Sebagian sudah
berhasil terpisah. Pelopornya adalah para pemuda. Untuk itu diharapkan kepada
mahasiswa, yang merupakan pemuda bangsa, menumbuhkan rasa cinta tanah air dan
siap bela negara. Serta sebarkan kepada pemuda lain di sekitarmu, bahkan kepada
pemuda di seluruh tanah air kita, Indonesia.
Hidup
Mahasiswa!!
Hidup
Rakyat Indonesia!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar