Selasa, 21 Juni 2016

Pemuda yang Dirindukan Bangsa



Tiga hari rangkaian Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (PKMU) 1 rampung sudah. Tiga materi, Manajemen Isu dan Opini Publik, Rekayasa Sosial, dan Kontra Intelijen, telah diterima oleh peserta, termasuk saya. Saya akan sedikit membagi kepada pembaca, apa saja yang telah saya dapat dari ketiga materi itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bismillahirrahmanirrahim

Jumat, 17 Juni 2016, hari pertama rangakain PKMU 1. Saya berhalangan hadir. Namun saya telah membaca rangkuman dari beberapa teman saya mengenai materi pertama, yaitu Manajemen Isu dan Opini Publik oleh Bapak M. Tri Andika Kurniawan, Dosen dari Universitas Bakrie.
Opini tentu saja berbeda dengan fakta. Opini lebih seperti pendapat yang belum bisa diketahui kebenarannya. Namun Pak Andika menambahkan “Hukum yang paling dipercaya oleh masyarakat adalah hukum opini.” Opini bisa menjadi hal yang besar jika telah menjadi opini publik. Publik berbeda dengan massa. Publik adalah sekelompok masyarakat yang terorganisir dan tercerdaskan dengan baik. Sedangkan massa adalah kebalikannya. Sehingga opini publik bisa dianggap kuat dan dapat dijadikan bahan untuk manajemen isu, walaupun belum pasti opini tersebut adalah benar.
Pak Andika yang merupakan lulusan S1 Universitas Indonesia jurusan ilmu politik memaparkan elemen dari opini publik, yaitu: terdapat isu, publik, pembelahan posisi publik, muncul opini, pelibatan aktor publik. Media bisa dikatakan sebagai aktor publik. Ciri khasnya adalah menggiring isu dengan menciptakan suasana hiperrealitas, yaitu keadaan di mana rekayasa dan fakta dipadukan di dalam opininya. Sehingga ukuran keberhasilan opini publik adalah saat di mana rekayasa dan fakta sudah tidak dapat dibedakan lagi. Ciri khas selanjutnya yang juga menjadi kelemahan dari opini publik, yiatu spiral of silent. Spiral of silent adalah keadaan di mana anggota minoritas dari publik itu mempunyai pendapat berbeda, namun enggan mengungkapkan dan memilih diam.
Selain itu ada pula, dampak dari opini publik, yaitu:
1. Inflasi informasi 
2. Disinformasi ( tidak mendalam dalam menggali informasi)
3. Depolitisasi ( isu pinggiran lebih mendominasi dari isu utama)
4. Banalitas informasi (junk information)
5. Hipermoralitas (hilangnya batas-batas moral)
Jadi, opini publik bisa menjadi senjata dalam manajemen isu. Namun, mencari opini publik janganlah asal-asalan dan harus mendalam. Agar tidak terjadi kesalahpahaman. Serta opini publik dikemas dengan sebaik-baiknya, guna mengurangi dampak negatif dari opini tersebut.
Sabtu, 18 Juni, 2016, hari kedua rangkaian PKMU 1. Agenda dilaksanakan di Aula Daksinapati, Kampus A Universitas Negeri Jakarta. Acara diulur beberapa waktu, dikarenakan terjadi miskom antara panitia dan pihak gedung. Namun, Alhamdulillah acara di hari kedua itu tetap terlaksana. Dibuka oleh MC, Galih Tresna Nugraha Perkasa. Materi pada hari kedua adalah Rekayasa Sosial oleh Bapak Jonru Ginting, seorang Socialpreneur, dan dimoderatori oleh Mohammad Hafizh.
Berbicara tentang rekayasa sosial maka kita akan berhadapan dengan suatu tujuan, yaitu perubahan. Siapa yang bisa melakukan sebuah perubahan? Seorang pemimpin. Dan setiap manusia adalah pemimpin. Pemimpin tidak melulu berbicara tentang jabatan, tapi tentang jiwa kepemimpinan tu sendiri. Dan jika membahas tentang perubahan, kita sebagai mahasiswa yang salah satu fungsinya adalah agent of change, apa yang harus kita miliki? Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita menjadi superhero?
Menjadi agent of change membutuhkan empat senjata akurat yaitu:
1.     Power (kekuatan), antara lain berupa apa yang kita miliki. Contohnya uang, ilmu, pemikiran, bahkan jabatan.
2.     Leadership (kepemimpinan). Sebagian individu sudh ada yang terlahir dengan sikap kepemimpinan di dalam dirinya. Namun, sikap kepemimpinan dapan dikembangkan dalam diri dengan mengikuti pelatihan. Dan lebih efektif lagi jika dibarengi dengan pengalaman.
3.     Mentality meliputi sikap yang berasal dari dalam jiwa, seperti kepercayaan diri, pantng menyerah, disiplin, konsisten, karakter, akhlak, semangat, dan sebagainya.
4.     Morality meliputi sikap kita terhadap orang lain di sekitar kita. Misalnya sikap eduli, cinta, tangung jawab, jujur, pengabdian dan lain-lain.
Dengan senjata-senjata di atas, kita siap menjadi agent of change menciptakan rekayasa sosial yang bertujuan membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Namun bagaimana jika rekayasa sosial membawa keburukan? Maka lawan dengan memanfaatkan media yang ada, walaupun dampaknya tidak terlalu besar. Yakinlah, semakin banyak orang menerima pesan kebaikan kita, maka keadaan akan semakin baik.
Minggu, 19 Juni 2016, hari terakhir dari tiga hari rangaian PKMU 1. Diadakan di Kampus B Universitas Negeri Jakarta, Gedung MIPA ruang 1.6-1.7. Materi yang disampaikan pada hari itu adalah Counter Intelligence (Kontra Intelijen) oleh Bapak Moses Caesar Assa, Staff Ahli Komisi 1 DPR RI, dan dimoderatori oleh Ahmad Roki Robani.
Materi dibuka dengan menyaksikan cuplikan film Pearl Harbor. Menceritakan tentang gagalnya Amerika mempertahankan diri dari serangan Jepang, dikarenakan tidak mengabaikan informasi dari intelijen negaranya. Maksud dari dipertontonkannya film ini adalah untuk memperlihatkan betapa pentingnya keputusan seorag intelijen.
Pengertian kontra intelijen itu sendiri ialah pencegahan agar pihak musuh tidak mendapatkan informasi yang dapat membahayakan keamanan melalui penerapan siasat yang menggunakan metode yang bertentangan (kontra) dengan pihak musuh. Misalnya dalam lembaga organisasi mahasiswa. untuk menjaga internal tetap solid dan saling percaya, yaitu dengan menganalisis segala tada-tanda yang terdeteksi yang dapat menganggu penjagaan anggota.
Kegiatan pikiran intelijen di mulai dari pengumpulan sinyal-sinyal yang akhirnya menjadi kumpulan data. Kumpulan data akan dijadikan informasi. Kumpulan informasi menjadi pengetahuan. Kemudian intelijen mulai memikirkan cara mengatasi masalah. Dalam hal ini, kemungkinan di masa depan bisa kita kumpulkan apabila kita kembali berkaca ke masa lalu, menemukan permasalahan sejenis yang pernah terjadi, kemudian mengaitkan dengan masalah di masa sekarang.
Inti dari kegiatan kontra intelijen adalah untuk mempertahankan negara. Lalu apa peran mahasiswa dalam pertahanan negara? Sangat banyak. Pemuda yang tidak memiliki rasa patritosme akan menyebabkan pertahan negara hancur. Buktinya, sudah berapa daerah Indonesia yang meminta memisahkan diri? Sebagian sudah berhasil terpisah. Pelopornya adalah para pemuda. Untuk itu diharapkan kepada mahasiswa, yang merupakan pemuda bangsa, menumbuhkan rasa cinta tanah air dan siap bela negara. Serta sebarkan kepada pemuda lain di sekitarmu, bahkan kepada pemuda di seluruh tanah air kita, Indonesia.
Hidup Mahasiswa!!

Hidup Rakyat Indonesia!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar